"" Dari Sampah Plastik Jadi Manfaat: Mahasiswa UNHAS Luncurkan Ecobrick di Bonto Salama

Dari Sampah Plastik Jadi Manfaat: Mahasiswa UNHAS Luncurkan Ecobrick di Bonto Salama

SOSMEDSINJAIDesa Bonto Salama kini semakin dikenal sebagai desa yang peduli terhadap lingkungan berkat program Ecobrick yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN 113 Universitas Hasanuddin (UNHAS) bersama masyarakat setempat dan sekolah-sekolah. Ecobrick adalah inisiatif inovatif yang mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan bermanfaat, mengurangi pencemaran plastik, serta menjaga kelestarian lingkungan yang berlangsung Minggu, (02/02/2025).

Acara yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari aparat desa, kepala sekolah, Ketua Bumdes, Babinsa, kepala dusun, hingga masyarakat umum. Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi oleh Kepala Desa, diikuti dengan pemaparan tentang Ecobrick dan expo teknologi tepat guna dari mahasiswa KKN, seperti mesin pencacah rumput dan aquaponik. Setelah itu, dimulai pemasangan botol Ecobrick pada kerangka tulisan "Bonto Salama", yang melibatkan perwakilan sekolah, kepala dusun, dan anak-anak.

Program Ecobrick ini muncul sebagai solusi terhadap kebiasaan masyarakat yang sering membakar sampah plastik karena terbatasnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pembakaran sampah plastik, meski tampak sebagai solusi sementara, berdampak buruk bagi lingkungan, mengakibatkan polusi udara, dan merusak tanah dengan membunuh mikroorganisme yang sangat penting. Selain itu, sampah plastik yang dibuang sembarangan di hutan atau tempat lainnya sulit terurai dan dapat mencemari ekosistem dalam jangka panjang. Dengan hadirnya program Ecobrick, masyarakat diajak untuk mengelola sampah plastik dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

Sasaran utama program Ecobrick adalah anak-anak. Mahasiswa KKN 113 UNHAS bekerja sama dengan beberapa sekolah di Desa Bonto Salama, seperti SD 137 Tangga Lembang, SMP 18 Sinjai, MA Muhammadiyah Tangga Lembang, serta Forum Anak Desa (FAD), untuk mengedukasi siswa mengenai dampak buruk sampah plastik dan cara pemanfaatan sampah plastik menjadi Ecobrick. Dalam program ini, siswa dilibatkan untuk mengisi botol plastik dengan sampah anorganik sebagai bagian dari pembuatan Ecobrick, yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan atau kreasi lainnya.

Setelah sosialisasi, mahasiswa KKN melakukan evaluasi dan demonstrasi pengisian botol di setiap sekolah. Proses selanjutnya adalah pengumpulan sampah plastik dari masing-masing sekolah. Pada 16 Januari 2025, kegiatan pembuatan kerangka tulisan "Bonto Salama" dimulai dengan menggunakan Ecobrick sebagai simbol keberhasilan program ini. Pada 30 Januari 2025, pengumpulan dan penyusunan botol Ecobrick dilakukan secara resmi bersama aparat desa dan pihak sekolah.

Acara semakin meriah dengan lomba berbahan plastik yang melibatkan anak-anak sekolah. Lomba-lomba tersebut antara lain estafet karet, estafet bola pingpong menggunakan gelas plastik, dan cerdas cermat dengan tema lingkungan dan pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di kalangan generasi muda.

Omega Teppa Singgi, penanggung jawab program ini, menyampaikan bahwa kegiatan ini berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan anak-anak. "Harapan kami, program Ecobrick ini tidak hanya mengumpulkan sampah plastik, tetapi juga memberikan motivasi kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan dan menciptakan inovasi dari bahan plastik," ujarnya.

Dengan selesainya program Ecobrick, tulisan "Bonto Salama" yang terbuat dari sampah plastik kini terpasang di desa tersebut, menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga kelestarian alam. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.