Dinas Kesehatan Sinjai Tekankan Validasi Data Kesehatan untuk Perkuat Pelayanan KIA, Gizi, dan Kesehatan Lingkungan

Dinas Kesehatan Sinjai Tekankan Validasi Data Kesehatan untuk Perkuat Pelayanan KIA, Gizi, dan Kesehatan Lingkungan

WARNAWARTA.COM, SINJAI SULSEL — Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai terus memperkuat pengelolaan data kesehatan sebagai dasar peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut diwujudkan melalui Pertemuan Validasi Data dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Gizi Keluarga, sekaligus Sinkronisasi dan Validasi Data Laporan Kesehatan Lingkungan Tingkat Kabupaten Sinjai Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai tersebut dilaksanakan pada Senin (21/9/2026) dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, dr. H. Kahar Anies, Sp.B.

Pertemuan ini dihadiri oleh para kepala bidang di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai serta pengelola program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, dan kesehatan lingkungan dari 16 Puskesmas se-Kabupaten Sinjai.

Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan data pelayanan kesehatan yang dihimpun dari tingkat puskesmas dapat tersinkronisasi, tervalidasi, dan digunakan sebagai dasar dalam menentukan kebijakan serta intervensi kesehatan yang tepat sasaran.

Dalam sambutannya, dr. H. Kahar Anies menegaskan bahwa data kesehatan tidak boleh hanya menjadi angka dalam laporan, tetapi harus dianalisis dan dimanfaatkan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan.

"Data tidak boleh berhenti menjadi angka dalam laporan. Data harus dianalisis mulai dari tingkat Puskesmas sampai tingkat Kabupaten," tegasnya.

Ia menjelaskan, data kesehatan yang lengkap, akurat, konsisten, mutakhir, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan memiliki peran penting dalam proses perencanaan program, penentuan sasaran, pelaksanaan intervensi, hingga evaluasi pelayanan kesehatan.

Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, validitas data menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan seluruh sasaran mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan, mulai dari ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi, hingga balita.

Data tersebut juga menjadi dasar dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, cakupan ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan, serta berbagai upaya pencegahan dan penanganan masalah gizi.

Hingga Agustus 2026, Kabupaten Sinjai mencatat 2 kasus kematian ibu dan 40 kasus kematian bayi. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan untuk terus memperkuat analisis terhadap faktor penyebab, kesenjangan pelayanan, kelompok sasaran yang belum terjangkau, serta menentukan langkah intervensi yang lebih efektif.

"Tidak boleh ada data yang hanya dilaporkan tanpa dianalisis, tidak boleh ada masalah yang telah teridentifikasi tanpa tindak lanjut, dan tidak boleh ada sasaran yang terlewat dari pelayanan yang seharusnya mereka terima," ujarnya.

Selain membahas KIA dan gizi, kegiatan ini juga melakukan sinkronisasi data kesehatan lingkungan, meliputi aspek sanitasi, akses air minum aman, sanitasi layak, serta kondisi lingkungan masyarakat yang menjadi faktor pendukung peningkatan derajat kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Sinjai mendorong seluruh jajaran puskesmas dan pengelola program untuk membangun budaya kerja berbasis data. Menurutnya, setiap angka yang tercatat dalam data kesehatan memiliki makna karena berkaitan langsung dengan kondisi individu, keluarga, dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

Ia berharap setiap permasalahan yang ditemukan melalui proses validasi data tidak berhenti pada tahap identifikasi, tetapi segera ditindaklanjuti melalui langkah penyelesaian yang jelas, baik di tingkat puskesmas maupun kabupaten.

"Target kita bukan semata-mata memperbaiki angka indikator, tetapi memastikan setiap ibu dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman, setiap bayi lahir sehat, setiap anak tumbuh dan berkembang optimal, serta terbentuk generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berkualitas," ujar dr. Kahar Anies.

Melalui kegiatan validasi dan evaluasi ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai berharap tercipta kesamaan persepsi antara pengelola program di tingkat puskesmas dan kabupaten, sekaligus menghasilkan data kesehatan yang semakin berkualitas sebagai dasar pengambilan kebijakan dan peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (Adv)