Opini: Empati yang Dipertontonkan, Ketika Kepedulian Berubah Menjadi Konsumsi Publik
WARNAWARTA.COM, SINJAI SULSEL — Saya berpendapat bahwa hari ini kita sedang menyaksikan pergeseran makna empati yang cukup serius di ruang digital. Di tengah derasnya arus informasi, kepedulian tidak lagi sekadar soal rasa, tetapi juga soal tampilan.
Apa yang dulu lahir dari kesadaran personal, kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang dipertontonkan, bahkan dalam beberapa kasus diperlombakan.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Kita bisa melihatnya dalam berbagai peristiwa yang viral belakangan ini.
Sebuah kasus sederhana seperti kehilangan barang di transportasi umum, misalnya, bisa berkembang menjadi tekanan publik besar di media sosial, bahkan menyeret individu tertentu ke dalam pusaran opini yang belum tentu sepenuhnya akurat.
Dalam salah satu kasus viral, seorang petugas bahkan terancam kehilangan pekerjaan akibat tekanan netizen sebelum klarifikasi resmi muncul.
Menurut saya, di sinilah letak masalahnya: kecepatan respons publik tidak diiringi dengan kedalaman pemahaman.
Banyak orang bereaksi sebelum benar-benar mengetahui konteks, membagikan informasi tanpa verifikasi, dan membentuk opini kolektif yang bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Dalam kasus yang sama, simpati publik bahkan bisa berbalik arah setelah fakta baru terungkap. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya dasar empati yang dibangun di ruang digital.
Saya juga melihat bahwa fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam praktik media hari ini, isu viral sering kali lebih menentukan arah pemberitaan dibandingkan pertimbangan yang mendalam.
Artinya, apa yang ramai diperbincangkan publik akan lebih cepat diangkat, meskipun belum tentu memiliki kedalaman informasi yang memadai.
Lebih jauh lagi, saya menilai bahwa media sosial telah mendorong lahirnya empati yang instan, cepat muncul, tetapi juga cepat hilang.
Kita menyaksikan bagaimana sebuah tragedi bisa menjadi pusat perhatian, lalu perlahan dilupakan ketika isu baru muncul.
Bahkan dalam beberapa kasus serius seperti perundungan di lingkungan kampus yang berujung pada tragedi, perhatian publik yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan sistem yang signifikan.
Dalam pandangan saya, kondisi ini menunjukkan bahwa empati di ruang digital sering kali bersifat reaktif, bukan reflektif.
Ia muncul karena dorongan emosi sesaat, bukan karena kesadaran yang mendalam. Akibatnya, penderitaan orang lain berisiko berubah menjadi konsumsi publik, ditonton, dibagikan, dan dikomentari tanpa benar-benar dipahami.
Saya tidak menafikan bahwa media sosial juga membuka ruang besar bagi solidaritas. Banyak gerakan sosial lahir dari sana, banyak suara yang sebelumnya tidak terdengar kini bisa mendapatkan perhatian.
Namun, saya juga melihat sisi lain yang tidak kalah penting: ruang digital hari ini mendorong orang untuk terlihat peduli, bukan sekadar menjadi peduli.
Bagi saya, empati sejati tidak selalu membutuhkan panggung. Ia tidak harus hadir dalam bentuk unggahan, komentar, atau reaksi yang terlihat publik. Justru, empati yang paling kuat sering kali hadir dalam tindakan nyata yang tidak dipublikasikan.
Karena itu, saya berpandangan bahwa kita perlu membangun ulang kesadaran dalam bersikap di ruang digital.
Bukan berarti kita harus diam, tetapi kita perlu lebih bertanggung jawab dalam setiap respons yang kita berikan.
Memastikan informasi, memahami konteks, dan menjaga martabat orang lain seharusnya menjadi bagian dari etika dasar dalam berempati.
Pada akhirnya, menurut saya, ukuran kepedulian tidak terletak pada seberapa cepat kita bereaksi atau seberapa ramai kita bersuara, melainkan pada seberapa dalam kita memahami dan seberapa nyata kita bertindak.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin justru empati yang tidak dipertontonkan adalah bentuk kepedulian yang paling jujur dan paling layak untuk dipertahankan.
Penulis: Aril Aprizal
(Mahasiswa UIAD Sinjai)
