Status Eliminasi Terancam, Dinkes Sinjai Waspadai Lonjakan Kasus Malaria Impor dari Daerah Endemis

Status Eliminasi Terancam, Dinkes Sinjai Waspadai Lonjakan Kasus Malaria Impor dari Daerah Endemis

WARNAWARTA.COM, SINJAI SULSEL — Pemerintah Kabupaten Sinjai melalui Dinas Kesehatan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kembalinya penularan malaria, meskipun daerah ini telah meraih status eliminasi sejak 2020. Ancaman utama yang kini dihadapi bukan lagi penularan lokal, melainkan kasus impor yang berisiko memicu penyebaran ulang.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pertemuan Diagnosis dan Tatalaksana Malaria bagi dokter serta tenaga laboratorium di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang berlangsung pada Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa capaian eliminasi malaria bukanlah akhir dari upaya, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Status eliminasi adalah prestasi yang patut kita syukuri. Namun, tantangan ke depan justru lebih berat, karena kita harus memastikan tidak terjadi lagi penularan setempat,” ujarnya.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir masih tercatat 68 kasus malaria di Sinjai, dengan rata-rata sekitar 23 kasus setiap tahun. Seluruhnya merupakan kasus impor yang dibawa dari wilayah endemis, terutama Papua.

Menurutnya, tingginya mobilitas penduduk menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Jika kasus-kasus tersebut tidak segera terdeteksi dan ditangani dengan benar, maka risiko munculnya kembali penularan lokal akan semakin besar.

Selain itu, ia juga menyoroti adanya ketimpangan laporan kasus di sejumlah wilayah kerja puskesmas. Beberapa fasilitas kesehatan bahkan tidak mencatat adanya kasus dalam kurun waktu tiga tahun.

“Kondisi tanpa kasus perlu dicermati. Bisa saja ini mencerminkan keberhasilan, tetapi juga bisa menunjukkan adanya penurunan kewaspadaan atau keterbatasan dalam proses deteksi,” jelasnya.

Untuk itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi fokus utama. Dokter dan analis laboratorium dinilai memiliki peran penting dalam memastikan diagnosis yang tepat serta penanganan sesuai standar medis.

Ia menekankan bahwa ketepatan diagnosis tidak hanya berfungsi untuk memastikan keberadaan parasit malaria, tetapi juga menentukan keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah rantai penularan.

Kegiatan ini diikuti oleh 36 peserta, terdiri dari 18 dokter umum dan 18 tenaga laboratorium yang berasal dari 16 puskesmas dan dua rumah sakit di Kabupaten Sinjai.

Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat memperbarui pengetahuan serta meningkatkan keterampilan teknis dalam penanganan malaria, sehingga mampu memberikan pelayanan yang optimal.

“Harapannya, seluruh tenaga kesehatan semakin sigap dan profesional, sehingga status eliminasi malaria di Sinjai dapat terus dipertahankan,” tutupnya. (Adv)